Kebakaran
hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh
kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. Kejadian alamiah
seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat
panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan
menghantar panas, dan pelepasan gas metana (CH ) telah diketahui dapat memicu
terjadinya kebakaran (Abdullah et al., 2002). Meskipun demikian, pemicu utama
terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia, yang
90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. Faktor manusia yang
dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka
pengembangan pertanian berskala besar, persiapan lahan oleh petani, dan
kegiatan-kegiatan rekreasi seperti perkemahan, piknik dan perburuan. Menurut
pengalaman di Malaysia (Abdullah et al., 2002; Musa & Parlan, 2002) dan di
Sumatra (Sanders, 2005), kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh
perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran
hutan dan lahan gambut. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan
cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang
berkesuburan rendah. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup
membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara
dan mengurangi kemasaman (Diemont et al., 2002).
Hanya saja
jika tidak terkendali, kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran.
Dalam skala
besar, ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut
yang telah direklamasi. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997
menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut
(PPLG) 1,4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas
(hot spots), yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan
(drainase) yang telah dibangun (Jaya et al., 2000; Page et al., 2000). Ancaman
itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan
Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al., 2000; Siegert
et al., 2002).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar